mawwwwwwwwwwaaaaaaaaaaaaaaaaar
Bahwa sekuntum bunga mawar atau matahari berbeda dari kita manusia, itu sudah pasti. Bahwa kita manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang lebih mulia dari sekuntum bunga mawar atau matahari, itu juga sudah pasti. Bahwa sebagai manusia kita lebih pengasih dan lebih tulus dibandingkan sekuntum bunga mawar atau matahari, ini yang belum pasti.

Lihatlah sekuntum bunga mawar ketika sedang mekar. Pernahkah ia pilih kasih dalam memberikan keindahannya. Adakah bunga mawar yang hanya mau memberikan keindahannya pada orang yang memiliki dan merawatnya ? Siapa pun yang lewat dan menatap bunga mawar yang sedang mekar, pemiliknya-kah, tukang kebun-kah, pemulung-kah, bahkan koruptor sekalipun, semua memperoleh keindahan yang sama ketika menatap sekuntum bunga mawar yang sedang mekar.
Demikian pula, wanginya aroma bunga mawar yang sedang mekar. Sekuntum bunga mawar pun dengan tulus memberikan wanginya kepada siapa saja yang menciumnya, kepada seorang gadis kecil, kepada seorang yang saleh, kepada pencopet, kepada gelandangang, bahkan kepada tangan-tangan nakal yang memetiknya ketika bunga mawar itu sebenarnya lebih senang tetap berada di pohonnya. Sekentum bunga mawar memberikan aroma wanginya dengan tulus kepada siapa saja.
Demikian pula halnya matahari. Siapa saja dipermukaan bumi ini akan memperoleh kasih matahari melalui sinarnya tanpa perbedaan. Matahari dengan tulus tetap memberikan sinarnya yang hangat dipagi hari, kepada anak-anak kecil yang berangkat kesekolah, kepada para pegawai yang menuju kekantor, kepada ibu-ibu yang berjalan kepasar, kepada petani yang berada di sawah, kepada pencopet yang lagi mengincar mangsa, bahkan kepada para penjahat dan koruptor yang berada dipenjara.
Apakah kita manusia, yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang paling mulia, lebih pengasih dan lebih tulus dibandingkan bunga mawar dan matahari. Saya ragu. Walau pun sangat halus, hampir setiap tindakan kita, dibayang-bayangi pamrih, yang paling halus sekalipun.
Pertama, kita cenderung memilih-milih kepada siapa kita akan berbuat baik. Walaupun kita merasa mampu berbuat baik kepada banyak orang, namun hampir semua orang itu adalah orang-orang yang juga kita anggap dan harap, telah dan akan berbuat baik kepada kita. Kalaupun kita berbuat kebaikan dengan tulus tanpa mengharapkan balasan dari orang yang kita berikan kebaikan, paling tidak kita mengharapkan balasan pahala kebaikan dari Tuhan. Ketulusan kita dalam berbuat kebaikan juga naik turun, setiap saat. Mungkin saat berbuat kebaikan pada seseorang kita benar-benar tulus, namun jika suatu waktu terjadi perselisihan atau permusuhan antara kita dengan orang tersebut, saya ragu apakah kita masih mampu memelihara ketulusan kebaikan yang pernah kita berikan.
Karena itulah Tuhan menantang kita. Belum sempurna iman seseorang diantara kamu, sebelum ia mencintai semua makhluk Tuhan yang lain, lebih dari cintanya kepada dirinya sendiri. Dimasa mudanya, Soedjatmoko (pemikir
sumber :www.fajarkeren.co.cc